05 Januari 2010

Dari Hati: Barometer Pujian


Beberapa waktu yang lalu saya dan suami menghadiri resepsi pernikahan dr rekan kerja suami saya. Saya sendiri tidak mengenal rekan kerja tersebut. Entah mengapa tiba-tiba suami saya berkata 'dia orangnya bagus'. Saya bertanya 'maksudnya?'. Suami saya menjawab 'kerjanya bagus, pantas kalo di usia 27 tahun dia udah jadi kepala dari seluruh kepala cabang'. Wow.. Saya terkesima.

Suami saya bukan termasuk orang yang basa basi. Kalau dia bilang bagus artinya memang begitu kenyataannya. Seketika saya bertanya dalam hati adakah diluar sana seseorang yang memuji saya?. Sungguh ini bukan karena haus pujian. Tapi lebih untuk instropeksi diri. Saya sangat berharap jika seseorang memuji saya itu bukan saat didepan saya. Karena dengan demikian saya yakin pujian itu bukan basa basi dan itulah pujian yang paling tulus. Saya percaya bahwa pujian adalah bonus dari sebuah usaha atau kerja yang sudah kita hasilkan. Kepuasan melihat sukses dari hasil kerja adalah yang utama. Dan jika sampai terdapat pujian (tulus) dari hasil karya kita maka itu adalah bonus dari sebuah kerja maksimal. Dan biasanya akan ada bonus-bonus yang lain yang juga menjadi hasil dari karya tersebut.

Di sebuah radio yang sering saya dengar sering disebutkan 'your job is not your carrier' dan 'what is your passion?'. Dan saya percaya bahwa hanya dengan mengenali apa passion kita dan terjun didalamnya maka kita baru bisa memberikan yang terbaik.

Sudah siapkah kita menerima pujian ? Sudah siapkah kita membuat teman/sahabat/keluarga/rekan kerja untuk memuji kita ?

Sudahkah kita memberikan yang terbaik ?


Writer: Dona Amelia

07 Desember 2009

Dari Hati: Syukur bukan Kufur


8 tahun tahun empat bulan saya sebagai karyawan SERA, dari posisi System Application Analyst, IS Project Analyst, SAP Maintenance, Client Device, SAP lagi, tentu banyak pengalaman yang diperoleh.

Ada kalanya kita merasa puas, karena harapan kita terwujud, hal ini tentu akan memicu motivasi kita untuk terus menjadi lebih baik,

Namun mungkin ada kalanya kita merasa kecewa karena menurut kita kenyataan yang jauh dengan apa yang diharapkan,
Mungkin sempat terbesit pertanyaan:

Mengapa pekerjaan saya,..

Mengapa karir saya,..

Mengapa gaji saya,..

Mengapa golongan..

dll..


Hal itu wajar, namun jangan pernah meletakkan hal tersebut dalam hati, karena akan melekat dan sulit dilepas..namun letakkan di fikiran kita untuk direnungkan, dibicarakan atau dipecahkan dengan segera. Semakin lama kita berkutat dengan masalah tersebut maka akan membuat kita tidak bersemangat, dan akan lebih fatal lagi banyak pekerjaan akan tidak terselesaikan, Siapa yang rugi? Kita juga bukan? mungkin teman2 kita bahkan perusahan kita.

Justru sebaiknya mari kita belajar bersyukur atas semua karunia-Nya, tanamkan sikap dan sifatnya membangun, Sudahkah kita melakukan pekerjaan yang lebih baik, Sudahkan kita memperbaiki sikap kita, Sudahkah kita menggunakan waktu efektif dalam bekerja,dll.. Tentunya kita akan malu jika kita selalu menanyakan “mengapa”, sementara kewajiban kita banyak terlewatkan,

Perbanyaklah introspeksi pada diri kita sendiri, maka kita akan semakin baik dari hari ke hari, Dan saya yakin, secara keseluruhan apa yang kita peroleh sesuai dengan apa yang kita perbuat…

teringat firman Tuhan: "Sesungguhnya Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"

Writer: Andi Setiawan Hardiyanto

21 Oktober 2009

Dari Hati: Life will always be a battle


04.20 wib. Momen yang sama seperti senin kemarin. Dan seperti pagi-pagi hari yang lain di minggu lalu. Selalu ada "pergulatan" kecil deep inside of me. Antara si "baik" yang menyemangati untuk bangun - mandi dan berangkat ngantor, dan si "jahat" yang bikin mata lengket dan tangan kembali menarik selimut rapat-rapat melawan dinginnya subuh.

Pun sesampai kantor, kembali "pergulatan" terjadi. Antara si "baik" yang menyemangati untuk "tampil" all out di hari ini, "menghabisi" tumpukan tugas yang diemban, versus si "jahat" yang kembali mengompori untuk bermalas-malasan, duduk manis sembari killing time (rather than wasting time) hingga pukul 17.00 wib and tengbur, menembus kepadatan tol Dalam Kota - lanjut Jagorawi pulang menemui keluarga di rumah.

Kalau sudah urusan pergulatan begini, saya mencoba review ke beberapa jam sebelumnya. Betapa berdosanya saya kalau tidak perform di kantor pagi ini. Dosa pada diri sendiri, yang sudah susah payah bangun pagi -- berdingin-dingin mandi -- dan bermacet-macet ria, tapi ternyata hari ini biasa-biasa saja prestasinya. Dan pastinya merasa paling berdosa pada my little ones, secara berangkat kerja sebelum dia bangun -- dan pulang kerja terkadang dianya sudah tidur (untung saya tidak dia panggil "Om" karena jarang ketemu), kalau ternyata Ayahnya ini tidak bisa menjadi kebanggaan dan bintang keluarga :) cie...

Pilihan di tangan kita sendiri, siapa yang harus memenangkan pergulatan di hari ini…

Akhir kata, mari kita berdoa - mohon perlindungan dan bimbingan selalu dari Dia -- Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati:
agar senantiasa diberi kemantapan, tuk menapaki hari
agar si "baik" selalu memenangkan pergulatan hati,
agar diberi keikhlasan untuk menjalani tugas yg kadang (terasa) berat ini, dan tentunya imbalan rizqi :)

Demikian kata hati ini, semoga dapat meng-inspirasi…


(Syam Wasito)


02 Oktober 2009

Dari Hati: Today is Batik Day


Tepat hari ini, tanggal 2 Oktober 2009 - UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi mengukuhkan BATIK Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Kabarnya, Batik masuk dalam kelompok Intangible Cultural Element.

Wah sebagai warga negara yang cinta bangsa ini, kami sekantor kompakan memakai batik di hari ini. Tak tanggung-tanggung pihak manajemen kantor tempat saya gawe pun ikut melakukan himbauan secara moral melalui email to all user. Belum lagi rekan-rekan yang aktif sebagai Netizen, dengan bersemangat mengajak melalui berbagai media yang mereka punya seperti blog, facebook dan juga twitter.

Gaung gerakan moral ini sudah terasa sejak beberapa hari lalu. Bahkan pihak pengelola tol Jagorawi pun menempelkan spanduk gede-gede di dekat pintu tol sebagai ungkapan rasa syukur ini. Memang sih, kemarin-kemarin sempat deg-degan usaha ini akan mengalami kendala, apalagi negara tetangga sudah berancang-ancang pula mengakui bahwa Batik ini adalah produk budaya mereka.

Ayo rekans, kita tingkatkan kecintaan pada budaya dan produk sendiri...meskipun sempat terdengar pula selentingan bahwa di Pasar Tanah Abang mulai dibanjiri produk Batik yang Made in China...lho kok?!

Trus, apa kabar Batik Pekalongan???

(Syam Wasito)

19 Juni 2009

Dari Hati: Variant Sushi Asli Indonesia?


Kalau kemarin-kemarin sempat heboh saling claim tarian adat, pakaian tradisional dan lagu nasional bahkan pulau antara negara kita dengan negeri jiran, mungkin nantinya akan terjadi hal yang sama antara Indonesia dan Jepang. Kali ini soal makanan.

Banyak dari kita yang mulai gemar dan bahkan keranjingan makan Sushi. Apa sih Sushi itu? Apakah identik dengan ikan mentah? Di dalam website About.com (Japanese Sushi by Shizuko Mishima) dijelaskan bahwa Sushi bukanlah melulu ikan mentah (atau dalam bahasa Jepang-nya disebut Sashimi). Sushi adalah makanan berbahan beras berbumbu dengan sweet rice-wine vinegar, tentu saja ikan mentah adalah isi paling populer Sushi ini - selain ada juga ikan yang telah dimasak, kerang dan isi lainnya yg dapat dikombinasikan di dalam Sushi. Namun elemen utama Sushi tetaplah sodara nasi yang lengket alias ketan ini.

Nah kalau berpatok pada definisi di atas, tak heran kalau kita boleh ikutan mengklaim bahwa Sushi adalah juga makanan tradisional Indonesia. Coba kita ingat-ingat, apa tuh variant dari Sushi yang asli Indonesia? Biasanya dibungkus daun pisang dan isinya abon sapi atau suwiran daging ayam. Yup betul, its LEMPER :)


So, marilah kita tidak mendiskriminasikan varian Sushi ini...kalau anda keranjingan aneka Sushi khas Jepang, harusnya juga mencintai variannya yang asli Indonesia. Cintailah produk-produk Indonesia. (Syam Wasito)

Picture:
kedaihamburg.blogspot.com
http://www.dineouthere.com/