Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

26 September 2010

Dari Hati: Akhirnya, Teknologi Jadi Penolong

Meskipun sudah berkecimpung hampir 15 tahun di dunia IT (kuliah & kerja), tapi saya bukanlah orang yang terlalu menggilai teknologi. Jadi ketika banyak sahabat yang bertanya, "Account Facebook-mu opo, Syam?" Dengan enteng saya menjawab, "Nggak nduwe, rek...". Wah macam-macam reaksinya. Ada yang spontan menyibir, "Cik medhite' rek!". Dia bilang saya pelit ndak mau bagi-bagi account facebook. Sebagian besar tidak percaya, search sendiri dan hasilnya memang hingga hari ini saya belum punya account Facebook ini :) Ada juga account Friendster lama saya yang sudah mulai ditinggalkan umatnya.


Begitu juga ketika Blackberry mulai booming di negeri ini. Teman-teman banyak yang tanya PIN BB saya. Saya jawab (sekali lagi), "Nggak nduwe, rek. Kalau PIN ATM bijimane? Gelem tah?". Sampai akhirnya policy di company tempat saya melaut mengais rejeki mewajibkan setiap jabatan struktural tertentu untuk memakai gadget smartphone ini, untuk kemudahan komunikasi dgn fitur push mail dan pengambilan keputusan yang lebih cepat dgn fitur BB Messenger nya.


Bukannya saya anti social, anti kemapanan atau anti kemajuan - tapi saya berpandangan bahwa sepanjang belum terlalu saya butuhkan, maka saya memilih untuk tidak menggunakan teknologi tsb. Hingga pada suatu kesempatan saya baca tulisan Prof. Richardus Eko Indrajit "CARA CEPAT UPDATE PENGETAHUAN". Tulisan ini berisi kiat agar praktisi IT dapat stay update dan bertahan di dunianya yang bergerak sangat cepat itu. Mulai-lah saya membuat account Twitter, trial aplikasi-aplikasi yang ada di BB, langganan E-Newsletter dari TechRepublic dan seterusnya.


Saat musim Mudik lalu barulah saya merasakan manfaat dari teknologi ini. Mobil kami sekeluarga sempat "tersesat" saat perjalanan dari Malang menuju Nganjuk, Jawa Timur. Jalan-jalan utama banyak yang ditutup dan lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif. Disini petualangan di mulai. Di awal perjalanan saya sudah berinisiatif untuk memantau kepadatan lalin dengan follow Twitter lokal seperti @InfoMalang dst. Tapi ada saatnya kita tidak dapat terlalu tergantung pada community ini. Tidak hanya community virtual (Twitter), tapi juga community yang real world. Maksudnya, saya sebagai co-pilot dan navigator di mobil tsb tidak bisa terus-menerus bertanya pada warga lokal di sepanjang jalan yg saya jumpai. Karena selain susah ketemu orangnya (hari sudah menjelang malam dan di pedesaan jarang sekali ada orang-orang yang nongkrong di depan rumah), juga karena wilayah Nganjuk yang cukup luas - tak heran bila tidak semua warga hafal arah yang kita tanyakan.

In the last minute, saat kami mulai desperate - barulah teringat kalau di BB saya ada aplikasi Google Maps. Dan Alhamdulillah, alamat yang kami cari dapat ditemukan. Dan kombinasi sukses Om BlackBerry dan Tante Google Maps ini diakhiri dengan habisnya battery BB tepat saat mobil memasuki garasi rumah di Surabaya. Wah pas banget ya... Dengan segala kemudahan teknologi ini, pantesan bila TGIF yang di Amrik sono tadinya berarti Thanks God It's Friday mulai berubah menjadi Twitter Google IPhone Facebook.


(Syam Wasito)

Picture: www.feedberry.com, gdgtgw.com, ericdavidgreenspan.files.wordpress.com

20 Mei 2010

Dari Hati: Feel Fun on The Road


Terinspirasi dari tag line di mobil Highway Patrol jalan Tol - Feel Safe on The Road, saya jadi teringat masa awal-awal pindah rumah dari Jakarta Barat ke Timur Jakarta. Jaman itu termasuk turbulence years bagi saya. Bagaimana tidak, berangkat pagi ke kantor perlu waktu 1,5 jam - dan jangan sedih - waktu tempuh untuk pulang kembali ke rumah bisa mencapai 2,5 jam. Belum lagi bila di siang hari ada tugas keluar kantor... Dalam sehari bisa empat jam lebih di jalan, What a time waste. Beneran tua di jalan.

Setelah pagi demi pagi, setiap hari saya lalui dengan manyun - sampailah pada titik pencerahan. Seorang teman kantor yang kebetulan nebeng pulang, melontarkan kalimat yang setara dengan tegangan listrik 10.000 watt. "Sudah dinikmati aja Mas, toh dengan kita menjadi stress tidak akan mengubah keadaan kan?! Yuk coba kita amatin mobil-mobil di jalan Tol ini, 7 dari 10 mobil ini produksi group kantor kita loh..." Serasa tidak percaya, saya coba ambil sampel acak merk mobil yang saya salip di kanan-kiri jalan ini. Ya ampyun...she's absolutely right!
Berarti selama ini saya ikut menikmati "keuntungan" atas kemacetan ini dong hehehe. Semakin banyak mobil terbeli dari group kantor saya, artinya perusahaan makin maju - dan saya (notabene sebagai karyawannya) juga semakin sejahtera. Wakakaka - analogi yang aneh.

Semenjak guyon parikeno tersebut, saya mulai mencari cara agar tetap enjoy di kemacetan ini. Masing-masing orang menciptakan caranya sendiri, beberapa rekan yang naik mobil omprengan atau kendaraan umum biasanya memilih tidur + mendengarkan I-Pod atau baca novel sembari spend time.

Saya cari versi saya sendiri agar selalu Feel Fun on The Road. Mulai dari download MP3 ke USB flash, dengerin musik favorit (OST Glee) keras-keras. Belum lagi hobi baru mengamati plat nomor mobil orang yang mengandung kata-kata lucu seperti B-1661-RL (Big Girl), B-8064-NK (Bogang, alias Ompong) dan seterusnya. Apalagi sekarang plat nomor mobil Jakarta deretan belakangnya sudah mencapai 3 huruf - makin banyak aja orang kreatif. Mulai deh mimpi, kapan ya bisa punya mobil ndiri dengan plat nomor istimewa asli Sidoarjo: W-451-TO :)

Kalau mimpinya diterusin, kapan ya punya driver yang setia menyetiri mobil kita (or at least punya mobil dengan fitur Auto Pilot) - so bisa makin productive di tengah kemacetan: buka laptop, nulis di Blog dst. hehehe

Well, anyway bener kata orang "Good mood start from home". So jurus anti bete pas berangkat kantor adalah mari kita ciptakan warm morning sedari rumah. Remembering si kecil yang wanti-wanti melepas kepergian kita "Da Da ayah...ati-ati di jalan ya" So Sweet...tapi ini sekedar mimpi buat saya, karena si junior-ku termasuk Bangsawan (= bangsane tangi awan, alias kelompok yang hobi bangun siang).


(Syam Wasito)
Picture: Courtessy Mr. Koerniawan Andy

16 April 2010

Dari Hati: Justice Maybe Blind, Our Customers aren't


IT Summit will always be fun. Dari pertama kali kita tiba di lokasi, mbak-mbak usher dan event organizer telah menyambut dengan ramah, trus dibagiin gimmick dan souvenir dari sponsorship (minimal USB Flashdisk 2Gb sih pasti dapet), belum lagi sajian hidangan coffee break dan lunch ala hotel berbintang hasil besutan para chef, lalu ada door prize (bila beruntung) di akhir acara dan pastinya ilmu baru yang Insya Allah membawa manfaat :)

Event teranyar yang saya ikuti di The Ritz Carlton Jakarta akhir bulan lalu mengusung tema New Collaboration Experience, atau bila diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa kita adalah Gotong Royong Plus-Plus. Maksudnya? Iya, Gotong Royong antar team yang dipermudah dengan Communication Technology.

Berbicara tentang Communication Technology, banyak fakta mengeZutkan yang dijabarkan dalam kesempatan ini.


Did you know...
· Seandainya Facebook adalah suatu negara, maka Facebook akan menjadi negara terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Konon kabarnya, di Indonesia saja sudah lebih dari 17juta Facebookers.
· Youtube adalah aplikasi Search Engine terbanyak dipakai kedua setelah Google.
· Kota dengan pemakai Blackberry terbesar di dunia adalah JAKARTA. Si presenter bilang jumlahnya mencapai 700ribu lebih dan terus bertumbuh seiring dengan promo bundling para operator GSM.
· 78% customer lebih percaya pada rekomendasi rekannya pada saat memilih suatu product ketimbang mempercayai advertisement resmi dari sang produsen yang hanya mencapai 14%. Ini adalah hasil riset AC Nielsen pada tahun 2008.


Apa arti dari paparan fakta-fakta di atas?
Yuk kita baca kembali, perlahan-lahan satu persatu fakta di atas, dan coba kita renungkan hubungan diantaranya.

Misalnya, ada salah satu customer (retail pula) yang menulis komplain - kecewa atas pelayanan company kita - di account facebook nya. Unfortunately, nih customer termasuk kalangan gaul yang mobilitasnya tinggi, kemana-mana bawa BB-nya. Maka dalam hitungan detik saja, postingannya yang berisi (mungkin) sumpah serapah menyebar bak virus di dunia maya, melalui situs jejaring sosial juga BBM (Blackberry Messenger). Kemudian teman dari si customer melakukan forward ke teman yang lainnya dan seterusnya. Dalam sesaat saja citra produk dan company kita langsung memburuk di mata dunia, no matter the reason why....

PR buat kita sebagai IT people adalah memikirkan suatu solusi, semacam aplikasi yang secara otomatis melakukan feed dari situs-situs jejaring sosial terkemuka (Twitter, Blog, Facebook bahkan YouTube) yang dapat memfilter semua thread atau posting atau apapun yang mengandung kata tertentu yang menjadi company brand kita, kemudian menyajikannya dalam suatu alert di ruang Customer Assistance Center. Melalui suatu dashboard cantik yang di-akses oleh seorang Customer Care agent, maka team dapat segera melakukan tindakan recovery layanan.

PR lain ya tentu saja melayani pelanggan dengan baik, menyajikan produk unggulan dengan layanan purna jual yang prima pula. Akhirul kalam, Can we delight everyone at the same level? Bisakah kita memuaskan SETIAP user dan customer kita?

Jadi ingat tagline film seri TV jaman dulu - Renegade, "Justice maybe blind, Our Customers aren't".

– Syam Wasito –

Picture: www.boonews.com dan www.courts.michigan.gov

08 Maret 2010

Dari Hati: To-Do-List (Guys, Jangan Sombong)


Pernahkah rekans tergelitik untuk mengukur kapasitas maksimum otak manusia di dalam menyimpan ingatan??
Saya sempat mengikuti perdebatan sengit tentang topik ini di dalam forum http://www.thenakedscientists.com/. Ada beberapa teori dan hipotesa, namun akhirnya mengerucut pada pendapat bahwa kapasitas maksimal otak "hanyalah" 1,25 Gb (Gigabyte).
Ilustrasi yang diberikan adalah otak manusia mampu menyimpan hingga 12,5 juta langkah di dalam olahraga catur (wow!). Atau kalau dikonversikan ke dalam koleksi lagu pop kurang lebih akan setara dengan 50 album (dalam format MP3).
Jadi, kalau kepenuhan - kita dapat memindahkannya dengan mudah ke dalam sekeping USB Flash Memory ya?! Wakakakaka (I wish i could, sayang seribu sayang not that easy).
Mean while, ada bagian kecil di dalam otak kita yang disebut dengan Short-term memory (ada yang menyebutnya dengan "primary memory" atau "active memory"), yaitu kemampuan untuk mengingat sejumlah kecil informasi secara aktif, yang siap tersedia saat diperlukan untuk periode yang singkat, beberapa detik saja. Kalau di dalam PC, mungkin jenis memory ini dapat di-analogi-kan sebagai RAM ya...

Sayangnya (lagi), RAM kita ini pun tidak dapat di-upgrade dengan mudah. Seorang psychologist bernama George Miller berpendapat bahwa kapasitas RAM kita hanya mampu menghandle item sebanyak 7±2 atau yang lebih dikenal dengan The Magical Number Seven, Plus or Minus Two (monggo tanya lebih lanjut ttg hal ini ke Om Wikipedia). Makanya waktu mata kuliah "Interaksi Manusia dengan Komputer" dulu, bu Dosen pengajar selalu wanti-wanti - kalau kalian bikin password atau PIN paling pendek 5 digit dan paling panjang 9 digit. Biar gampang diingat dan ora kelalen, Bo... :)

Banyak tips dan teknik yang coba diperkenalkan oleh para ahli di dalam meng-improve memory kita ini. Ada yang namanya metode Mind Maps dan sebagainya.


Bagaimana relevansi-nya di era kerja yang dituntut serba Multi-tasking ini??
Kadang kita lupa bahwa selain RAM kita yang terbatas - kita masih dapat pula menggunakan "External Harddisk" sebagai alat bantu. External Harddisk alias kerpekan (Javanesse Language, red) ini tersedia di pasaran dalam bentuk berbagai tools dan software, baik free license maupun berbayar.

Kalau saya paling senang membuat To-Do-List di notebook pakai aplikasi sederhana NOTEPAD, trus ditaruh dalam suatu folder yang diletakkan di DESKTOP. Kelihatan crowded, memang - but its simple. Bila tugas telah selesai, tinggal berikan tanda [DONE] dibagian akhir dari baris tugas tersebut.

Ternyata, (setelah dikasih tahu Om Wikipedia lagi) To-Do-List ini adalah bagian penting dari Time Management yang berisi daftar dari tugas-tugas yang harus diselesaikan, semacam alat inventori dari hal-hal yang jadi "hutang" untuk dikerjakan.

Nah setelah menyadari keterbatasan otak kita ini, semoga tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menjadi sombong.


Lho kok??
Iya, masih ada di antara kita yang "sombong" malas bawa catatan, agenda atau block note saat menghadap atasan atau saat ketemu user. Masih "merasa" mampu mengingat semuanya. Malas membuat MOM (minutes of meeting), karena merasa RAM nya nggak pernah kepenuhan.


Iya kan?? :)


(Syam Wasito)


26 Februari 2010

Dari Hati: Click


Mari bicara tentang film. Pastinya hampir setiap orang punya film favorit.

So, what is your favourite one?

Once upon the time - saat saya masih kuliah di Jogja, sempat booming film India modern "Kuch Kuch Hota Hai" (artinya: Something Happen) yang diperankan dengan apik oleh aktor Shah Rukh Khan dan Kajol, salah seorang teman satu kost saya dengan yakin bilang kalau "Ini film favorit gue"...
Hehehe, dan memang tidak salah - karena semenjak dia beli VCD bajakannya film ini (maklum mahasiswa, sangunya pas-pasan) , dia sudah menontonnya tidak kurang dari 17 kali. Wow...film bollywood yang durasinya super panjang...kebayang deh capeknya pantat :)

Kalau saya sangat suka movie yang bersifat kolosal dan penuh hingar bingar macam Band of Brothers, Lord of The Ring dan pastinya Star Wars serta banyak lagi. Dari sekian banyak tadi, terselip satu judul yang "beda" temanya.

Film "Click" yang dibintangi oleh Adam Sandlers (dan Kate Beckinsale). Saya menontonnya baru 5x saja hehehe, dan itupun not in purpose. Saya cenderung menyalahkan channel TV Star World yang ikut andil akan hal ini, karena memutar film yang sama berulang-ulang. Udah gitu kok ya tetep saya tonton :) Salah sendiri nDak langganan Star Movie yang lebih banyak pilihannya ya.

"Click" bercerita tentang seorang family man dan juga adalah seorang arsitek yang workaholic.
Bagaimana usaha Adam Sandlers mencapai puncak kariernya di kantor dengan mengorbankan segala hal yang related dengan urusan keluarganya. Dari hubungan suami-istri yang mulai terasa hambar, anak-anak yang selalu dijanjikan hadiah dari sang Ayah (tapi tidak pernah ditepati), kedua orang tua yang mulai jompo dan melakukan hal-hal membosankan, hingga hewan peliharaan yang selalu bikin ulah.


Untuk melalui segala hal tersebut, dia punya remote control ajaib yang sewaktu-waktu tinggal pencet tombol "Fast Forward", dan Click! maka segalanya akan berlalu dengan lebih cepat. Bahkan sekedip mata. Sang tokoh sentral dalam film ini hanya fokus pada pekerjaannya, bikin desain arsitek dan memenangkan tender.

Sesaat setelah dia meraih puncak kariernya, dia baru sadar bahwa selama ini dia telah melewatkan seluruh kehangatan yang ada dalam sebuah keluarga. Istrinya yang minta cerai dan menikah kembali dengan pria pendek & gendut yang suka memakai celana Speedo. Anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Dan Ayahnya yang telah meninggal dunia.

Semuanya terlambat sudah. Dia tak bisa lagi memencet tombol "Rewind" pada remote control-nya.

Ada dua adegan favorit saya dalam film ini (dan selalu saja mata saya berkaca-kaca ketika sampai pada bagian ini):

Pertama, ketika sang lakon membentak dan mengacuhkan ayahnya yang renta yang mengunjunginya di kantor dan mengajaknya sekedar makan di luar - padahal itu adalah saat-saat terakhir dia dapat bertemu sang ayah.

Kedua, saat sang lakon yang sedang sakaratul maut di rumah sakit dengan berbagai selang infus dan oksigen - berusaha keras menyusul anak laki-lakinya yang baru saja menikah. Dia mengejar si anak hingga jatuh tersungkur ditengah guyuran hujan deras, hanya untuk mengingatkan si anak agar mengutamakan keluarga dan tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan dirinya.

Rekans, sebelum semuanya terlambat - sempatkan saat ini juga disela-sela kesibukan kerjamu untuk sekedar say "Hai" pada istri dan anak-anak di rumah. Sempatkan sesekali sekedar menyapa dan menanyakan kabar kedua orang tua. Dan luangkan lebih banyak waktu buat mereka di akhir pekan. Ingat ya, buat siapa sih kita bekerja dan banting tulang??


Ehm...jangan sampai hidup kita jadi film fiction comedy yang sedih...

(Syam Wasito)


19 Februari 2010

Dari Hati: To Take and To Give


Pernahkah rekans merasa ada seseorang yang dalam hidupnya selalu “merepotkan” kehidupan rekans?
Yaitu orang-orang yang selalu meminta tolong, meminta bantuan, sehingga membuyarkan rencana-rencana kita, bahkan merusak hari-hari kita - dengan tumpukan permintaan tolong mereka - atas hal-hal yang mereka tidak dapat kerjakan sendiri, hingga pada akhirnya hal-hal tersebut menjadi “tugas tambahan” bagi kita.

Jika rekans menjawab “Ya”, bagaimana rekans menyikapinya?

Dulu sewaktu di SMP di Surabaya, saya seringkali mendengar kalimat “to take and to give” dari Ibu Wido, guru mata pelajaran PMP sekaligus wali kelas. Beliau selalu mengingatkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi is much better than meminta.

Kembali ke pertanyaan di atas, menurut saya orang-orang yang hobinya “ngerepoti” kita ini sebenarnya sangat berjasa lho pada kita. We have to thank them for all of this stuff.

Kenapa?
Karena mereka adalah ladang “pahala” bagi kita, asalkan…di saat kita membantu - mengatasi kerepotan mereka ini - disertai dengan keikhlasan. Ikhlas hanya mengharap ridho-Nya, bukan pamrih yang lain – misalnya anggapan bahwa kita menanam budi atau menabung “pertolongan” pada mereka dengan harapan someday nih mereka juga akan membantu kita disaat kita juga sedang mengalami “kerepotan” dan perlu pertolongan balik dari mereka.

Ini pikiran yang kurang pas. Sebab belum tentu mereka dapat atau mampu membantu kita – disaat kita perlu. Alih-alih pahala, malahan sakit hati yang akan kita dapati.

Yuk, mari berlapang dada menghadapi “ladang pahala” kita ini…


Have a fabulous Friday, Everyone!

(Syam Wasito)

01 Februari 2010

Dari Hati: Nomor 2 di Dunia, Nomor 1 di Ruang Angkasa!


Pada weekend minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti suatu event Product Knowledge di Kota Bunga - Bandung. Ada satu hal yang cukup menarik pada acara yang digelar salah satu perusahaan raksasa IT ini. [Disclaimer: Swear ini bukan commercial things atau iklan lho ya, sekedar sharing informasi saja].

Si empunya acara menjelaskan salah satu line of product-nya di bidang Networking yang bernama ProCurve. Jujur saja, saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya - karena selama ini sudah cukup familiar dengan si Raja Networking "C". Dan si presenter menjelaskan bahwa product ProCurve ini adalah nomor 2 di dunia, TAPI nomor 1 di ruang angkasa!! Hah!? kok bisa begitu? Ternyata ProCurve ini sudah berdiri sejak tahun 2000 dan banyak konsentrasi pada product Switch. Dan katanya sih, dia berani memberikan lifetime warranty untuk produk-produknya. Saya sempat tanya, kok bisa berani kasih garansi seumur hidup gitu ya? Kata mereka sih, selama ini yang sering problem "cuma" fans dan power supply saja. Jadi mereka cukup pede ambil langkah ini.

Lalu kenapa dia nomor 2 di dunia?
Seperti yang telah diduga, coba tengok Magic Quadrant Gartner (April 2009) untuk Enterprise LAN (Global), si ProCurve ini satu langkah di belakang sang Raja.

Lalu kenapa dia nomor 1 di luar angkasa?
Nah fakta ini yang coba saya Googling, pada news release tertanggal 23 May 2007, sang induk perusahaan memenangkan contract dari NASA selama 7 tahun. Dan pastinya, sang induk perusahaan ini akan menggunakan semua line of product-nya untuk mensupport project ini, termasuk menggunakan switch ProCurve untuk project-project NASA baik di muka bumi maupun di ruang angkasa (tepatnya di International Space Station - Columbus Module).

Hehehe ada-ada saja ya! But at least, patut diacungi jempol kejujurannya untuk mengakui bahwa mereka nomor 2. Tidak seperti Kecap yang semuanya nomor 1. So, mari jadi pribadi yang jujur - agar selalu menjadi nomor 1 di mata Sang Maha Melihat, both di dunia dan akhirat.
(Syam Wasito)


Picture: http://www.historicalstockphotography.com/

05 Januari 2010

Dari Hati: Barometer Pujian


Beberapa waktu yang lalu saya dan suami menghadiri resepsi pernikahan dr rekan kerja suami saya. Saya sendiri tidak mengenal rekan kerja tersebut. Entah mengapa tiba-tiba suami saya berkata 'dia orangnya bagus'. Saya bertanya 'maksudnya?'. Suami saya menjawab 'kerjanya bagus, pantas kalo di usia 27 tahun dia udah jadi kepala dari seluruh kepala cabang'. Wow.. Saya terkesima.

Suami saya bukan termasuk orang yang basa basi. Kalau dia bilang bagus artinya memang begitu kenyataannya. Seketika saya bertanya dalam hati adakah diluar sana seseorang yang memuji saya?. Sungguh ini bukan karena haus pujian. Tapi lebih untuk instropeksi diri. Saya sangat berharap jika seseorang memuji saya itu bukan saat didepan saya. Karena dengan demikian saya yakin pujian itu bukan basa basi dan itulah pujian yang paling tulus. Saya percaya bahwa pujian adalah bonus dari sebuah usaha atau kerja yang sudah kita hasilkan. Kepuasan melihat sukses dari hasil kerja adalah yang utama. Dan jika sampai terdapat pujian (tulus) dari hasil karya kita maka itu adalah bonus dari sebuah kerja maksimal. Dan biasanya akan ada bonus-bonus yang lain yang juga menjadi hasil dari karya tersebut.

Di sebuah radio yang sering saya dengar sering disebutkan 'your job is not your carrier' dan 'what is your passion?'. Dan saya percaya bahwa hanya dengan mengenali apa passion kita dan terjun didalamnya maka kita baru bisa memberikan yang terbaik.

Sudah siapkah kita menerima pujian ? Sudah siapkah kita membuat teman/sahabat/keluarga/rekan kerja untuk memuji kita ?

Sudahkah kita memberikan yang terbaik ?


Writer: Dona Amelia

07 Desember 2009

Dari Hati: Syukur bukan Kufur


8 tahun tahun empat bulan saya sebagai karyawan SERA, dari posisi System Application Analyst, IS Project Analyst, SAP Maintenance, Client Device, SAP lagi, tentu banyak pengalaman yang diperoleh.

Ada kalanya kita merasa puas, karena harapan kita terwujud, hal ini tentu akan memicu motivasi kita untuk terus menjadi lebih baik,

Namun mungkin ada kalanya kita merasa kecewa karena menurut kita kenyataan yang jauh dengan apa yang diharapkan,
Mungkin sempat terbesit pertanyaan:

Mengapa pekerjaan saya,..

Mengapa karir saya,..

Mengapa gaji saya,..

Mengapa golongan..

dll..


Hal itu wajar, namun jangan pernah meletakkan hal tersebut dalam hati, karena akan melekat dan sulit dilepas..namun letakkan di fikiran kita untuk direnungkan, dibicarakan atau dipecahkan dengan segera. Semakin lama kita berkutat dengan masalah tersebut maka akan membuat kita tidak bersemangat, dan akan lebih fatal lagi banyak pekerjaan akan tidak terselesaikan, Siapa yang rugi? Kita juga bukan? mungkin teman2 kita bahkan perusahan kita.

Justru sebaiknya mari kita belajar bersyukur atas semua karunia-Nya, tanamkan sikap dan sifatnya membangun, Sudahkah kita melakukan pekerjaan yang lebih baik, Sudahkan kita memperbaiki sikap kita, Sudahkah kita menggunakan waktu efektif dalam bekerja,dll.. Tentunya kita akan malu jika kita selalu menanyakan “mengapa”, sementara kewajiban kita banyak terlewatkan,

Perbanyaklah introspeksi pada diri kita sendiri, maka kita akan semakin baik dari hari ke hari, Dan saya yakin, secara keseluruhan apa yang kita peroleh sesuai dengan apa yang kita perbuat…

teringat firman Tuhan: "Sesungguhnya Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"

Writer: Andi Setiawan Hardiyanto

21 Oktober 2009

Dari Hati: Life will always be a battle


04.20 wib. Momen yang sama seperti senin kemarin. Dan seperti pagi-pagi hari yang lain di minggu lalu. Selalu ada "pergulatan" kecil deep inside of me. Antara si "baik" yang menyemangati untuk bangun - mandi dan berangkat ngantor, dan si "jahat" yang bikin mata lengket dan tangan kembali menarik selimut rapat-rapat melawan dinginnya subuh.

Pun sesampai kantor, kembali "pergulatan" terjadi. Antara si "baik" yang menyemangati untuk "tampil" all out di hari ini, "menghabisi" tumpukan tugas yang diemban, versus si "jahat" yang kembali mengompori untuk bermalas-malasan, duduk manis sembari killing time (rather than wasting time) hingga pukul 17.00 wib and tengbur, menembus kepadatan tol Dalam Kota - lanjut Jagorawi pulang menemui keluarga di rumah.

Kalau sudah urusan pergulatan begini, saya mencoba review ke beberapa jam sebelumnya. Betapa berdosanya saya kalau tidak perform di kantor pagi ini. Dosa pada diri sendiri, yang sudah susah payah bangun pagi -- berdingin-dingin mandi -- dan bermacet-macet ria, tapi ternyata hari ini biasa-biasa saja prestasinya. Dan pastinya merasa paling berdosa pada my little ones, secara berangkat kerja sebelum dia bangun -- dan pulang kerja terkadang dianya sudah tidur (untung saya tidak dia panggil "Om" karena jarang ketemu), kalau ternyata Ayahnya ini tidak bisa menjadi kebanggaan dan bintang keluarga :) cie...

Pilihan di tangan kita sendiri, siapa yang harus memenangkan pergulatan di hari ini…

Akhir kata, mari kita berdoa - mohon perlindungan dan bimbingan selalu dari Dia -- Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati:
agar senantiasa diberi kemantapan, tuk menapaki hari
agar si "baik" selalu memenangkan pergulatan hati,
agar diberi keikhlasan untuk menjalani tugas yg kadang (terasa) berat ini, dan tentunya imbalan rizqi :)

Demikian kata hati ini, semoga dapat meng-inspirasi…


(Syam Wasito)


02 Oktober 2009

Dari Hati: Today is Batik Day


Tepat hari ini, tanggal 2 Oktober 2009 - UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi mengukuhkan BATIK Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Kabarnya, Batik masuk dalam kelompok Intangible Cultural Element.

Wah sebagai warga negara yang cinta bangsa ini, kami sekantor kompakan memakai batik di hari ini. Tak tanggung-tanggung pihak manajemen kantor tempat saya gawe pun ikut melakukan himbauan secara moral melalui email to all user. Belum lagi rekan-rekan yang aktif sebagai Netizen, dengan bersemangat mengajak melalui berbagai media yang mereka punya seperti blog, facebook dan juga twitter.

Gaung gerakan moral ini sudah terasa sejak beberapa hari lalu. Bahkan pihak pengelola tol Jagorawi pun menempelkan spanduk gede-gede di dekat pintu tol sebagai ungkapan rasa syukur ini. Memang sih, kemarin-kemarin sempat deg-degan usaha ini akan mengalami kendala, apalagi negara tetangga sudah berancang-ancang pula mengakui bahwa Batik ini adalah produk budaya mereka.

Ayo rekans, kita tingkatkan kecintaan pada budaya dan produk sendiri...meskipun sempat terdengar pula selentingan bahwa di Pasar Tanah Abang mulai dibanjiri produk Batik yang Made in China...lho kok?!

Trus, apa kabar Batik Pekalongan???

(Syam Wasito)

19 Juni 2009

Dari Hati: Variant Sushi Asli Indonesia?


Kalau kemarin-kemarin sempat heboh saling claim tarian adat, pakaian tradisional dan lagu nasional bahkan pulau antara negara kita dengan negeri jiran, mungkin nantinya akan terjadi hal yang sama antara Indonesia dan Jepang. Kali ini soal makanan.

Banyak dari kita yang mulai gemar dan bahkan keranjingan makan Sushi. Apa sih Sushi itu? Apakah identik dengan ikan mentah? Di dalam website About.com (Japanese Sushi by Shizuko Mishima) dijelaskan bahwa Sushi bukanlah melulu ikan mentah (atau dalam bahasa Jepang-nya disebut Sashimi). Sushi adalah makanan berbahan beras berbumbu dengan sweet rice-wine vinegar, tentu saja ikan mentah adalah isi paling populer Sushi ini - selain ada juga ikan yang telah dimasak, kerang dan isi lainnya yg dapat dikombinasikan di dalam Sushi. Namun elemen utama Sushi tetaplah sodara nasi yang lengket alias ketan ini.

Nah kalau berpatok pada definisi di atas, tak heran kalau kita boleh ikutan mengklaim bahwa Sushi adalah juga makanan tradisional Indonesia. Coba kita ingat-ingat, apa tuh variant dari Sushi yang asli Indonesia? Biasanya dibungkus daun pisang dan isinya abon sapi atau suwiran daging ayam. Yup betul, its LEMPER :)


So, marilah kita tidak mendiskriminasikan varian Sushi ini...kalau anda keranjingan aneka Sushi khas Jepang, harusnya juga mencintai variannya yang asli Indonesia. Cintailah produk-produk Indonesia. (Syam Wasito)

Picture:
kedaihamburg.blogspot.com
http://www.dineouthere.com/

28 November 2008

Dari Hati: Rumah Kita vs Krisis Listrik


Cita-cita memiliki rumah impian terwujud sudah, Alhamdulillah. Dengan tetesan keringat, air mata dan darah (berlebihan banget ya...), sedikit demi sedikit uang dikumpul. Kerja dari pagi buta sampai pagi lagi (saking butanya sampai ga ngeh kalau dah ganti tanggal). Profesi lama sebagai Kontraktor (orang yang selalu kontrak rumah) segera ditinggalkan.

Meskipun bukan rumah super mewah, at least ini hasil jerih payah sendiri, juga hasil jerih payah Bank Mandiri (penyedia KPR, terima kasih) dan juga hasil jerih payah Koperasi Karyawan di kantor (penyedia pinjeman uang muka, terima kasih) huahaha. Kamar tidur sudah tersedia spare bila sewaktu-waktu ada tamu atau keluarga yang menginap. Kamar mandi pun ada 2. Wah ini yang paling penting, secara saya kalau mandi lama banget & jadi bahan komplain yang lainnya. At least, dalam 5 tahun ke depan tidak perlu ada renovasi yang bersifat major, sembari menunggu si kecil beranjak besar (plus mumpung belum ada adiknya).

Sesuai rencana, seharusnya kami sudah pindah ke rumah yang baru paling lambat akhir tahun 2008 ini. TAPI...ada satu hal yang sangat prinsip yang masih menjadi sandungan. Ternyata rumah kami belum dialiri LISTRIK. Menurut pihak developer, hal ini disebabkan karena Krisis Pasokan Listrik dari PLN, artinya kami akan tinggal dalam kegelapan untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Kalau kata developer, "Menurut Pak Jusuf Kalla, krisis listrik ini akan selesai pada 2009". Waduh pakai bawa-bawa nama pak Wapres segala. Pasti ini urusannya berat. Dan ternyata krisis ini bukan cuma kami yang mengalami, tapi boleh dibilang menimpa seluruh anak bangsa yang kebetulan senasib dengan kami. Pantas saja dia bawa-bawa nama pak JK.

Kami jadi berpikir, kalau pengembang sekelas Ciputra Group saja tidak mampu berkutik mengatasi permasalahan ini, apalagi pengembang kelas ecek-ecek ya??

Jadi tergoda untuk "menambahi" papan peringatan di depan cluster kami:
1. Cluster ini tanpa pagar.
2. Pembuatan kanopi diperbolehkan hanya menggunakan kayu/besi
3. Apabila melanggar akan dibongkar
4. Rumah di cluster ini didesain tanpa listrik.

Hehehe

Makanya, yuk kita semua lebih bijak mengkonsumsi listrik, karena listrik sudah menjadi barang langka di negeri ini. Ingat kaum tertindas seperti kami, yang selanjutnya terpaksa bernyanyi kembali Lagu "Rumah Kita" punya Ahmad Albar - God Bless:

"Lebih baik disini, kontrakannya Pak Edi... Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa... Semuanya ada disini..." (Syam Wasito)

14 November 2008

Dari Hati: Bikers vs Ranjau Paku


Pembaca tentunya masih ingat beberapa waktu yang lalu di email-email dan mailing list banyak beredar informasi dan pengumuman dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya tentang sejumlah titik di jalan raya yang terdapat di wilayah DKI Jakarta yang merupakan lokasi rawan ranjau paku. TMC juga meminta partisipasi warga masyarakat yang melihat pelaku penebar paku yang sedang beraksi, agar dapat menghubungi TMC di nomor telpon 021-5276001 atau SMS 1717


Adalah, Mr. Widayat, rekan kantor saya yang super kreatif dan banyak ide melemparkan ajakan sbb:
Gimana kalo kita bikin acara cleaning day, tapi bukan sembarang cleaning day. Targetnya adalah bersihin jalan-jalan di Jakarta, pakai magnet besar dari speaker bekas trus kita harapkan hasilnya:
- Para bikers sudah berkurang resikonya terhadap ban gembos karena ranjau paku
- Hasil pengumpulan paku bisa dijual ( kiloin ) hasilnya dipakai untuk membuat alat penyapu ranjau, dan boleh kita pinjamkan ke club bikers lainnya untuk melakukan kegiatan yang sama
- Bisa masuk tivi, majalah, koran2 ibukota, kalau kegiatan kita peduli sesama biker
- Bisa minta sponsor ke ATPM Yamaha, Honda, Top1, Aspira, dll

Ruginya : Kita dimusuhin preman, rampok, tukang tambal ban, dll Hehehe

So, berani terima tantangan?? Katanya brotherhood of bikers :)
(Syam Wasito)

18 September 2008

Dari Hati: Team Work



Masih menyambung dengan acara "Corporate Service Culture Campaign", minggu lalu masing-masing divisi di kantor saya diminta untuk membuat poster dengan hanya diberi modal awal selembar kertas karton putih ukuran A3. Iming-iming hadiahnya sih sebenarnya kurang "menggigit", just Rp 200.000 untuk juara 1, 2 dan 3. Cuma yang menjadi pemacu adrenalin adalah kekompakan team yang menjadi sorotan disini (team work), plus Esprit de Corps juga menjadi taruhannya. Iya dong, malu kalau dibilang tidak kompak + kalah dengan divisi lainnya.


Sebagai PIC campaign ini di divisi IT, segera saya kumpulkan volunteer dan membentuk task force. Wah ga disangka, relawannya banyak juga. Padahal semula saya sudah pesimis akan dapat dukungan dari rekan-rekan. Mulai dari yang pengen jadi sutradara (doang), pengen jadi tukang foto, sampai (yang paling banyak daftar) pengen jadi artis yang di foto (narsis ga sih??).







Mentang-mentang orang IT, langkah pertama adalah Googling mencari "contekan" konsep. Dapatlah di Google foto orang-orang pekerja bangunan yang berjejer membentuk tulisan "TEAM". Nah selanjutnya dari hasil diskusi, kami akan mengusung tema "Bekerja sama (Team Work) untuk memberikan solusi terbaik kepada pelanggan (user)".




Nah mulai kepentok lagi deh idenya. Ada usulan untuk menampilkan kesan yang "pokoknya IT banget". Akhirnya dimunculkan gambar keyboard, mouse dan layar monitor LCD. Tulisan "TEAM" di layar monitor disusun dari foto-foto team Dharma Wanita IT.





Wah geng narsis yang hobi foto ini dengan cepat menyusun perencanaan kostumnya, White TShirt & Blue Jeans. Huruf T diperankan oleh Erni, huruf E oleh Vivi & Shelfany, huruf A oleh Ida & Lia dan huruf M oleh Ika & Dyah. Untuk fotografi kami didukung oleh 3 orang fotografer kawakan (tapi hanya dengan 1 buah Camera Canon EOS 40D), sampai berebutan: Hare, Andi dan Nelsi. Lokasi pemotretan pun memanfaatkan studio alam: ruang meeting lantai 6, pas jam makan siang (kan lagi puasa ramadhan).



Tag line "Bekerja Sama untuk Solusi Terbaik" dimunculkan di keyboard dengan besutan teknologi retouch.

Dan terakhir, keseluruhan konsep dituangkan ke dalam bentuk cetakan oleh Andi dengan bantuan Om Corel (Draw) dan Tante Adobe (Photoshop) yang baik dan menawan :)

Tepat 1 jam sebelum batas akhir pengumpulan, tugas pun kami selesaikan. Tinggal berharap-harap cemas, apakah akan jadi pemenang??


Hasil karya seluruh divisi pun dipajang di lobby Grha SERA. Dan akhirnya, divisi IT terpilih menjadi juara 3, dibawah divisi Corporate HR dan Marketing Communication (ya eya lah...Marketing gitu lho, hehehe). Gapapa, selisih nilainya pun tidak terpaut jauh, hanya 5 point saja. Lagipula hadiahnya juga sama kok: voucher Carrefour 200ribu. Yang terpenting adalah intisari dari permainan ini: Ide dan kerjasama dari dua orang atau lebih dalam menyelesaikan suatu permasalahan / pekerjaan, akan jauh lebih baik & lebih daripada ide dan kerja sendirian... It's a matter of Team Work!


Thank you guys & girls. Keep the good (team) work. (Syam Wasito)

08 September 2008

Dari Hati: Hari Pelanggan Nasional

Coba, berapa banyak dari kita yang tahu dan mengetahui kalau kemarin tanggal 4 September 2008 adalah Hari Pelanggan Nasional?

Sebagai karyawan yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa, mungkin saya "agak" beruntung bisa tahu sedikit tentang hal ini :)

Seharian kemarin kami di kantor ada banyak aktifitas, mulai dari quiz via email dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pelayanan kepada pelanggan (hadiahnya lumayan banyak & gede) hingga ada special greeting di setiap mengakhiri pembicaraan via telepon dengan mengucapkan "Selamat Hari Pelanggan Nasional"...

Nah yang lucunya lagi, saya didapuk alias kejatuhan durian runtuh menjadi PIC semacam Customer Care Coordinator untuk divisi tempat saya bernaung (IT). Walah... Timbul pertanyaan juga, kenapa teman-teman Customer Care Dept. (atas sepengetahuan & seijin atasan saya tentunya) memilih saya menjadi "duta" di dalam divisi ini??

Dalam benak saya paling tidak ada 2 jawaban yang masuk akal:
1. Atasan menilai saya orang yang paling rendah load kerjanya di divisi ini
2. atau selama ini saya dipandang sebagai pribadi yang paling care terhadap segala sesuatu yang berurusan dengan pelayanan kepada "customer"

Karena saya termasuk positive thinking people, ya saya anggap jawaban nomor 2 yang paling sesuai :) Kalau kata iklan rokok ya "Enjoy aja..."

Over all, memang agak kurang compatible buat orang-orang non-Sales Person seperti saya, yang tiap hari kerjaannya stay di belakang meja, di kantor pusat pula. Sehingga konsep pelanggan ini menjadi agak sedikit blur. But, yang terpenting untuk selalu diingat adalah "Next process is our customer" dan lakukan "hanya" yang terbaik untuk customer Anda, siapapun dia.

"Selamat Hari Pelanggan Nasional 2008"

(Syam Wasito)

21 Desember 2007

Dari Hati: Dunia Penuh Orang-orang Yang Malang

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, saya melihat mereka di sudut jalan Rajawali dan Sentani - Jakarta Pusat. Sekeluarga, ada dua laki-laki dewasa, seorang ibu tua dan dua orang anak-anak perempuan dan laki-laki. Mereka sambil bercanda bercengkerama penuh kehangatan menikmati sarapannya. Beralas tas kresek plastik, tiga bungkus nasi yang masih hangat mengepul mereka santap bersama. Kebahagiaan nampak menggayuti wajah mereka. Padahal……They’re just a bunch of vagabonds.

Setibanya di kantor, sambil menikmati sarapan default mie ayam AMDI, otak terus muter. Di metropolis ini, saya yakin banyak orang seperti mereka. Orang-orang malang, tidak seberuntung kita yang punya tempat berteduh, terkadang penuh sederhana dan mungkin bukan milik sendiri.

Sejenak tergugah niat untuk sekedar membantu, tapi tidak tahu bagaimana melakukannya. Kadang juga “mimpi” bikin suatu lembaga sosial. Mungkin nggak sebesar Dompet Dhuafa apalagi club seperti Lions. Mungkin awalnya mengumpulkan “modal” dari saweran teman-teman se-ide, toh ada beberapa komunitas yang saya ikutan di dalamnya. Mungkin sekalian menyalurkan yang 2,5% itu. Mungkin, mungkin dan mungkin. Tapi yah itu cuma mimpi. Memang nggak mudah mengumpulkan “kepala” dan “mulut” banyak orang.

Dulu pernah sih ketemu teman yang seide, tapi belakangan nih orang pindah ke pulau lain. Jadi kabur lagi deh cita-cita suci nan mulia ini…ceilee…..:)…..he…he….
Akhirnya, saya “cuma” bisa berdoa (klise ya?!), semoga “Rasul menyuruh kita mencintai anak yatim dan mengasihi orang miskin” bukan cuma jadi syair lagu yang pernah dibawakan Bimbo, yang meskipun usang selalu diputar ulang di TV ketika Ramadhan tiba.


Mari dengan rata, kita bagi cahaya mentari...


(Syam Wasito)

11 Desember 2007

Dari Hati: P J K A

Let’s talk about love. Sebuah tema universal yang tak lekang oleh jaman.
Belakangan sedang nge-trend istilah PJKA dikalangan rekan-rekan penulis. Bukannya Perusahaan Jawatan Kereta Api, melainkan “Pulang Jumat, Kembali Ahad”.

Karena sang suami atau istri yang berdomisili di kota lain, maka rekan-rekan tersebut rela menjalani “gaya hidup” yang bernilai ibadah ini. Ada yang bawa mobil sendiri, naik PJKA betulan, bahkan naik bis regular non-PATAS. Asalkan weekend tiba, mereka rela crossing the miles, menempuh jarak berkilo-kilo meter jauhnya untuk menemui “pasangan jiwa”nya masing-masing. Nggak ada istilah capek badan, nggak kenal istilah “berat di ongkos”, meskipun di hari seninnya biasanya mata ngantuk berat serasa di-lem.

Ada bermacam hal yang menjadi alasan. Mayoritasnya karir dan kesempatan yang lebih luas. Pada awalnya hal ini mungkin adalah pilihan yang sulit, antara cinta dan pekerjaan. Dan sebagian besar dari mereka juga menyadari kalau keduanya laksana bola dalam genggaman tangan. “Pekerjaan” adalah bola “karet”, yang memantul dengan cepat ketika lepas dari genggaman, dan “cinta” adalah bola “kaca” yang akan pecah bila terjatuh. Namun akhirnya mereka telah memutuskan jalannya, sepanjang dapat menjaga keduanya agar tak terjatuh.

“Penderitaan” ini bisa dianggap sebagai salah satu wujud cinta sejati, cinta seorang suami pada sang istri, yang tentu saja lebih nyata dari cinta Arwen pada Aragorn dalam kisah trilogy TLOTR. Indah memang. Dan mungkin hanya mereka yang menjalaninya yang dapat memahami. Yang jelas kebesaran hati dan kepercayaan yang tinggi akan senantiasa yang mendasari. Salut buat PJKA! (Syam Wasito)

19 November 2007

Dari Hati: Nggak Level?


Suatu sore, sekitar 5 meter dari mulut gerbang kantor, sebuah sedan Peugeot 406 silver nyaris menyerempet seorang tukang ojek sepeda.
Serta merta nih tukang ojek bersumpah serapah menyebut nama-nama semua hewan di kebun binatang sambil mengacung-acungkan tangan.

406 pun berhenti. Seorang ibu muda in her late 30’s, membuka kaca jendela & melongokkan kepalanya keluar. Pakai blazer & make up minimalis, typical wanita kantoran. Dia ucapkan maaf, kemudian diam sejenak melihat si tukang ojek yang belum selesai juga “ngabsenin” nama-nama hewan itu. Dari raut mukanya, si ibu kelihatan ingin “berdamai”.

Bukannya berpihak, tapi penulis melihat sendiri kalau yang salah sebenarnya adalah si tukang ojek yang jalannya “nyleot-nyleot” layaknya si empunya raya Gaya Motor I ini.

Si ibu kemudian menutup kaca dan menjalankan mobilnya lagi, meninggalkan si pemilik kebun binatang yang ceriwisnya belum kelar-kelar juga :)

Banyak alasan yang coba penulis tebak. Mungkin dia orang yang malas ribut & lebih memilih “ngalah”. Atau 1001 alasan lain. Tapi menurut penulis, ibu ini patut diacungi jempol. Kenapa sih kita musti ribut ama orang yang nggak bisa diajak ngomong? Anggap saja orang rese’ ini dari sisi intelektualitas nggak level kita. Haruskah kita buang intelektualitas & downgrade ikut-ikutan ribut dan menyebut nama-nama hewan pula? Mendingan nyebutin nama-nama tumbuhan deh, biar lebih lama “ngabsen”nya. (Syam Wasito)

“ya Tuhan, ampunilah hamba-Mu yang sok industrialis & intelektual ini…”

Peace, Say No to War