Tampilkan postingan dengan label Hongkong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hongkong. Tampilkan semua postingan

03 September 2008

Kuliner: Jumbo Floating Restaurant


Jumbo Floating Restaurant sangatlah Istimewa dan berbeda. Restoran ini sebenarnya adalah kapal (sungguhan) yang mengapung di sebuah pelabuhan kecil Aberdeen Harbour di Hongkong Island. Sering dipakai sebagai lokasi shooting berbagai film, termasuk salah satu film James Bond 007. Restoran ini didirikan pada bulan Oktober 1976, dan memerlukan waktu hingga 4 tahun untuk perancangan dan pembangunannya serta menghabiskan biaya jutaan dollar hongkong.

Spesial menunya adalah Chinese food. Dan untuk cita rasa lumayan - setara dengan resto Chinese food pada umumnya di Indonesia. Dari sederet hidangan yang disajikan di meja, yang menarik perhatian saya adalah Udang Goreng dan Cah Baby Kaylan. Udangnya benar-benar gurih dan baby kaylannya pun tidak liat ketika digigit.

Untuk urusan harga, wah kebetulan saya tidak punya informasi akuratnya karena semua makanan sudah dibayar oleh si tour leader :)


Yang spesial disini adalah suasananya. Bentuk luar, ornamen dan interiornya mengingatkan pada istana kerajaan Cina di jaman kuno yang cantik dan indah. Di tempat ini pun disediakan tempat foto menyerupai singgasana raja Cina, lengkap dengan kipas-kipas besarnya. Sementara pemandangan di luar, disana-sini terlihat deretan kapal-kapal boat kecil milik pribadi yang sedang parkir (seperti di Pantai Ancol), dengan latar belakang skyscraper dan bukit-bukit kecil diantara pulau-pulau hijau.


Untuk mencapai resto apung ini, dari tempat parkir bis - rombongan diangkut menggunakan kapal ferry kecil. Kabarnya sih, resto ini milik salah satu raja judi di Macau. Pokoknya bila Anda berkesempatan berkunjung ke Hongkong, sayang banget deh bila melewatkan kesempatan berkunjung ke Jumbo Floating Restaurant ini. (Syam Wasito)


Hobi Kuliner? Simak tips-nya disini


27 Agustus 2008

Travel: Hongkong & Budaya Lalu Lintas




Secara umum, mobil-mobil di HK tidaklah lebih bagus daripada di Jakarta. Selain itu, motor juga jarang banget disini. Itu pun mayoritas jenisnya adalah skutik alias scooter matic. Dan karena kota yang kecil, maka orang akan berpikir berkali-kali untuk memiliki kendaraan pribadi. Bayangkan saja bensin di SPBU (mayoritas Shell punya) harganya HKD 16/liter. Belum lagi ongkos parkir yang mencapai HKD 30/jam. Wow!!



Pilihan kendaraan umum cukup beragam, ada taxi, Double Decker (bis tingkat) juga MTR (kereta cepat). Taxi-nya pun menurut saya masih lebih cool taxi-taxi di Indonesia. Di HK taxi-nya seragam (Toyota Crown), dan hanya ada satu warna saja yaitu merah. Lucunya disini sopir taxinya malah tidak seragam bajunya. Malah ada yang nyetir sambil pakai TShirt dan celana boxer doang :)




Kalau lihat double decker-nya, jadi ingat masa kecil di Surabaya dulu waktu lagi musim bis tingkat warna abu-abu jurusan Aloha - Waru Sidoarjo. Bedanya disini, driver bisnya banyak juga yang kaum perempuan. Demikian pula mobil-mobil besar pengangkut cargo di Airport-nya. Kalau di Jakarta kan banyak juga driver busway yang cewek.

Hal lain yang menarik perhatian saya, di HK jarang sekali terdengar orang yang pencet klakson. Hmm...Setelah coba saya amati, mobil dan motor hanya berhenti sebentar, so kendaraan yang di belakangnya jadi sabar menunggu.


Masyarakat HK lumayan disiplin untuk urusan menyeberang jalan. Di tiap zebra cross, ada semacam audio pilot yang memandu orang menyeberang jalan. Nit...nit...nit.. semakin cepat berbunyi artinya pejalan kaki harus semakin cepat jalannya karena sebentar lagi lampu akan menyala hijau dan giliran mobil-mobil mulai jalan lagi.



Wah, pas lagi asyik mengamati budaya masyarakat HK dalam ber-lalu lintas, tiba-tiba saya rasakan terpaan angin yang terasa basah seperti ada cipratan air hujan. Oalah, ternyata cuma "hujan lokal". Ya, hujan lokal ini akan banyak kita jumpai di sepanjang trotoar dan asalnya dari tetesan outdoor AC yang "kurang" terawat dari flat-flat di daerah "kumuh"nya HK.



(to be continued…) Syam Wasito

08 Agustus 2008

Travel: Hongkong "Pelabuhan Yang Wangi"

Menurut local guide yang memandu saya, Hongkong dalam bahasa setempat berarti "Pelabuhan yang Wangi". Dan memang dari beberapa sea side yang sempat saya lewati di HK, ga ada tuh yang bau amis ikan :) dan bersihnya juga luar biasa, tidak ada sampah berceceran. Padahal HK juga katanya tempat bagi pelabuhan kontainer terbesar di dunia.


Malah yang saya dengar, karena traffic kapal-kapal internasional di pelabuhan-pelabuhan inilah pemerintah HK bisa "kaya". Jadi mereka tidak perlu lagi memungut pajak yang melangit ke warganya. Tapi, jangan coba-coba merokok di sembarangan tempat di HK ini ya, dendanya bisa mencapai $ 5.000 lho. Padahal uang saku kita juga ga nyampai segitu :) Belum lagi harga sebungkus rokok di Circle K atau Seven-Eleven (minimarket-nya HK, semacam Indomaret & Alfamart di sini) yang dijual seharga $ 40 per bungkus. Pokoknya pemerintah benar-benar mempersulit warganya yang hobi “membakar uang”. Hmm, sumber pendapatan yang patut kita pikirkan?!

Cerita lebih lanjut tentang uang, selain dollar Hongkong, USD juga diterima secara luas di HK. Disini ada 3 lembaga keuangan semacam BI (Bank Indonesia), yang masing-masing mencetak versi uangnya sendiri-sendiri. Ada HSBC, Standard Chartered dan Bank of China. Jadi di HK dapat kita jumpai 3 versi pecahan $20 misalnya, gambarnya pun berbeda-beda. Jadi asyik juga kalau mau dikoleksi.


(to be continued…) Syam Wasito

Travel: Hongkong Beauty of Nature & Modern Civilization

Setelah menempuh perjalanan 4 jam 8 menit dari Jakarta, kesan itu lah yang pertama muncul di benak saya. Betapa keindahan alamnya yang (kata local guide) memiliki sekitar 233 pulau (kalau tidak salah 3 pulau terbesar adalah Kowloon, pulau Hong Kong dan the New Territories), terdiri atas bukit-bukit hijau yang berbatasan langsung dengan laut.



Hampir semua pulau-pulau tersebut terhubungkan dengan jembatan (modelnya kayak jembatan San Fransisco) atau terowongan bawah laut. Nah inilah yang mewakili aspek peradaban modern. Selain juga gedung-gedung pencakar langit yang berserakan seantero HK. Bagaimana tidak, luas wilayah yang sempit dan harus menampung sekitar 6.92 million (pada 2007) populasi penduduk serta tingkat pertumbuhan penduduk 0.8% mau tidak mau apartment dan flat adalah pilihan untuk tinggal. Bahkan pemerintah sampaimenguruk sebagian lautannya agar dapat dibangun gedung-gedung bertingkat lagi.

Local guide saya punya cerita tersendiri tentang apartment ini. Menurutnya, harga sewa per bulan flat dengan fasilitas ruangan studio, plus 1 kamar mandi & 1 dapur bisa mencapai $6.000/bulan (rate $1 = Rp 1.200,-), belum termasuk service charge bulanan sekitar $2.000/bulan untuk keamanan dan kebersihan. Mahal banget. Saya teringat bila dibandingkan dengan kontrakan "rumah petak" sodara saya di kawasan Rawa Domba - Jakarta Timur. Dengan luas yang sama "hanya" Rp 600.000/bulan :)



Tak heran bila karena biaya hidup yang mahal ini, maka suami-istri di HK harus sama-sama bekerja agar dapat hidup "layak". Kalau tidak, mereka harus sharing tinggal bersama di dalam flat dengan keluarga lainnya, plus musti "berantem" tiap hari karena urusan sepele berebut kamar mandi atau dapur.



Wah, kalau sudah begini rasanya tinggal di Indonesia is the best ya!! Makanya saya tidak mau berlama-lama di HK, 4 hari saja. Hehehe.


(to be continued…) Syam Wasito